Minggu, 29 Maret 2015

Mada Linggau belajar Batik Warna Alam di Giriloyo

Suatu kehormatan bagi kami kedatangan seniman dan penulis ternama dari Lubuk Linggau yang juga aktif di Dewan Kesenian Kota Lubuk Linggau. "Mata Mada" adalah buku pertamanya yang beliau tulis. Selain perupa, i


a juga pemain teater, film dan hoby baca puisi.. Banyak karya goresan tangannya dipamerkan di event2 nasional maupun di lingkup daerah. Siapa lagi kalau bukan Armada Mandala Simapera.. dengan nama trendnya MANDA LINGGAU. 
Bulan Maret 2015 lalu Manda Linggau menyempatkan diri belajar Batik Tulis dan pewarnaan alam pada kami. Selama tiga hari bersama dua rekan seprofesinya tekun mempelajari tentang batik dan proses warna alam. Dunia yang berbeda ia rambah, keasyikan, keunikan, kesabaran dan konsentrasi penuh ia tempuh hingga ia dapatkan sebuah kepuasan bathin berupa karya unik, menarik dan patut dikembangkan serta dilestarikan. "Batik Tulis" dua kata ia ucap sambil bergetar., disusul senyum riang sembari berucap "Aku Bisa" sesuai dengan slogan kotanya di Lubuk Linggau yang sempat ia torehkan juga di atas kain batik hasil karyanya "Linggau Bisa"

Kamis, 25 Desember 2014

BATIK TULIS MOTIF TRUNTUM

Motif Truntum
MOTIF TRUNTUM yang diciptakatn oleh Kanjeng Ratu Kencana (Permaisuri Sunan Paku Buwana III) ini bermakna cinta yang tumbuh kembali. Beliau menciptakan motif ini sebagai simbul cinta yang tulus tanpa syarat, abadi, dan semakin lama terasa semakin subur berkembang (tumaruntum). Karena maknanya, kain bermotif truntum biasa dipakai oleh orang tua pegantin pada hari pernikahan. Harapannya adalah agar cinta kasih yang tumaruntum ini akan menghinggap kedua mempelai. Kadang dimaknai pula bahwa orang tua berkewajiban untuk "menuntun" kedua mempelai untuk memasuki kehidupan baru.

Ratu Kencono yang merupakan permaisuri Paku Buwono III Surakarta Hadiningrat itu, mendekatkan diri pada Sang Pemberi Hidup pada suatu malam. Hingga datanglah sebuah gagasan. Katakanlah semacam inspirasi. Ia melihat langit yang cerah dan bertabur bintang, dan kerlip bintang itulah yang menemani kesepiannya. Ia pun mencium harum bunga tanjung berjatuhan di kebun persinggahannya sebagai bagian dari ide. Ia terus berupaya mendekatkan diri pada Tuhan sambil mulai membuat karya batiknya demi mengisi kekosongan. Membatik baginya seperti halnya berdzikir.

Selang berapa lama kemudian, sang raja menemukan permaisurinya tengah membatik sebuah kain yang indah. Hari demi hari, sang raja pun memerhatikan kesibukan baru sang permaisuri dan kain indah yang dihasilkan. Teriring juga perasaan kasih sayang yang kembali muncul. Itulah mengapa banyak yang menyebut truntum sebagai simbol cinta raja yang bersemi kembali.Secara etimologi, truntum itu sendiri berasal dari isitlah teruntum–tuntum (bahasa Jawa) artinya tumbuh lagi. Taruntum memiliki arti senantiasa bersemi dan semarak lagi. Batik truntum memiliki pola yang halus dan sederhana. Bermotif seperti taburan bunga-bunga abstrak kecil, atau menyerupai kuntum bunga melati. Terkadang berbentuk seperti bintang yang bertaburan di langit. Dilihat dari bentuknya, tentunya butuh waktu sangat lama melukiskan motif truntum dalam selembar kain. 

Motif truntum menggambarkan bunga dilihat dari depan terletak pada bidang berbentuk segi empat. Biasanya menggunakan warna hitam sebagai dasar.Karena nilai sejarah dan ajaran moralnya, motif truntum menjadi salah satu jenis pola batik terkenal di Solo—tempat asal motif batik ini diciptakan pertama kali. Motif tersebut akhirnya menjadi populer di Pulau Jawa. Termasuk juga di daerah sentra batik tulis Giriloyo, Wukirsari, Imogiri, Bantul, Yogyakarta.

Bermain Sambil Belajar

Cara Agar Pakaian Selalu Terlihat Baru

Entri Populer

Resent Comment